Senin, 17 Desember 2012

Contoh Resensi Buku


Banyak tugas, harusnya juga banyak berbagi ya. Ini ada contoh Resensi buku, yang aku dan temen-temen sekelompok buat beberapa waktu yang lalu. Ini tugas dari Bu Puji guru Bahasa Indonesia tercinta. Smeoga bermanfaat yaa :)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan resensi buku yang berjudul Seorang Anak Bernama Suwardi Suryaningrat.
Resensi ini berisi gambaran tentang buku Seorang Anak Suwardi Suryaningrat. Adapun data dan informasi yang disajikan dalam resensi ini diperoleh dengan membaca buku secara langsung.
Resensi ini disusun untuk melengkapi tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Selain itu kami selaku penyusun juga berharap semoga resensi buku ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membaca.
Kami menyadari bahwa tiada gading yang tak retak, begitu juga resensi ini, masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kami sangat mengharap kritik dan saran yang membangun dari pembaca, semoga setitik sumbangsih kami ini dapat bermanfaat bagi pembaca umumnya dan penyusun khususnya.

Penyusun




BAB I
PENDAHULUAN
A.     Identitas Buku
1.    Judul Buku                   : Seorang Anak Bernama Suwardi Suryaningrat
2.    Pengarang                    : B.S Dewantara
3.    Penerbit                        : PT Intan Klaten
4.    Kota Terbit                  : Klaten
5.    Tahun Terbit                 : 1985
6.    Tebal Buku                   : V halaman pendahuluan
  56 halaman isi
7.    Jenis Kertas                  : HVO 60gr, BC 180 gr

B.     Latar Belakang dan Tujuan
Tujuan dan latar belakang buku yang berjudul Seorang Anak Bernama Suwardi Suryaningrat adalah untuk mengetahui lebih dalam tentang sosok Suwardi Suryaningrat yang sekarang dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional.















BAB II
PEMBAHASAN
A.     Sistematika Buku
  Buku yang berjudul Seorang Anak Bernama Suwardi Suryaningrat terdiri atas X bab. Bab I menceritakan tentang sekilas kisah hidup Pangeran Suryaningrat, yang merupakan ayahanda dari Suwardi Suryaningrat. Bab II dan III menceritakan tentang Suwardi Suryaningrat pada saat lahir dan mulai diasuh oleh inangnya, hingga Suwardi Suryaningarat kecil melawan inangnya yang memaksa untuk mematuhi adat keluarga ningrat yaitu tidak bergaul dengan hamba sahaya. Bab IV menceritakan Pangeran Suryaningrat menawarkan Suwardi Suryaningrat untuk bersekolah di ELS dan menceritakan sejarah keturunan silsilah keluarga Suwardi Suryaningrat. Lalu, Bab V menceritakan tentang keinginan Suwardi Suryaningrat untuk mengikutsertakan teman-temannya dari kalangan hamba sahaya bersekolah di ELS. Bab VI menceritakan tentang hari-hari Suwardi Suryaningrat di sekolahannya. Bab VII menceritakan Suwardi Suryaningrat yang berbagi ilmu dengan teman-temannya, kalangan hamba sahaya. Kemudian Bab VIII menceritakan kisah saat Suwardi Suryaningrat berburu di hutan dan pelajaran yang didapatkannya. Bab IX menceritakan tentang kegiatan Suwardi Suryaningrat di sekolah dokter Stovia Batavia. Dan yang terakhir adalah Bab X yang menceritakan tentang keaktifan Suwardi dalam organisasi kemerdekaan Indonesia sampai ia diasingkan.

B.     Ringkasan Cerita

Pangeran Suryaningrat adalah putra sulung Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam III, raja Kadipaten Paku Alaman. Walaupun seorang anak sulung, beliau tidak dapat naik tahta menjadi seorang raja menggantikan ayahnya, karena pada waktu kecil setelah Ibunda Ratu dan Sri Paku Alam III cekcok, Pangeran Suryaningrat menderita sakit yang menyebabkan suhu panas badan beliau terlalu tinggi hingga mengganggu syaraf mata dan menyebabkan Pangeran Suryaningrat menjadi tuna netra. Beliau tumbuh menjadi seorang mualim yang mengabdikan kehidupannya kepada Tuhan dan agamanya. Sikapnya baik terhadap rakyat jelata dan hamba sahaya.
Pada Kamis Legi tanggal 2 Puasa 1309 Hijriah atau tanggal 2 Mei 1889, Raden Ayu Suryaningrat, istri Pangeran Suryaningrat, melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Raden Mas Suwardi. Suwardi, seperti kalangan bangsawan jaman itu yang lain, dirawat oleh seorang inang. Inang itu wajib mengerjakan pekerjaan seorang ibu kecuali melahirkan dan menyusui. Sejak Pangeran Suryaningrat memerintahkan Suwardi untuk belajar, sejak itu pula Suwardi mulai menjalin hubungan dengan teman-temannya belajar yang akhirnya menjadi sahabatnya.  Teman-temannya tersebut bukanlah anak bangsawan melainkan anak-anak hamba sahaya.
Sikap Suwardi yang senang bermain dengan hamba sahaya bahkan sampai bermain di kampung membuat inang Suwardi jengkel dan melaporkannya pada Pangeran Suryaningrat dengan harapan beliau akan memarahi Suwardi. Ternyata tidak, Pangeran Suryaningrat justru mengingatkan inang pengasuh Suwardi untuk tidak terlalu mengekang Suwardi  dan lebih tekun dalam mendidik Suwardi.
Pada bulan Mei 1896, Suwardi berusia 7 tahun. Suwardi sudah pandai mengaji dan mulai diajar membaca serta melagukan tembang-tembang atau puisi Jawa. Namun, Pangeran Suryaningrat ingin lebih meningkatkan kepandaian anaknya yang cerdas tersebut dengan cara menyekolahkannya di Europeesch Lagere School atau ELS. Pada suatu hari Pangeran Suryaningat mengingatkan Suwardi untuk tidak terlalu banyak bermain-main dengan Sariman, temannya dari kalangan hamba sahaya. Suwardi pun bertanya apakah ayahandanya mempercayai laporan inang pengasuhnya bahwa Suwardi sekarang sudah menjadi anak liar yang suka membangkang adat akibat hasutan Sariman. Pangeran Suryaningrat tertawa lalu menceritakan tentang silsilah keluarganya, yang intinya adalah kakek Pangeran Suryaningrat berasal dari kalangan rakyat jelata. Suwardi lalu mengerti dan yakin bahwa dalam darahnya mengalir darah rakyat jelata. Pangeran Suryaningrat pun mengingatkan Suwardi untuk tidak sombong.
Sehari sebelum Suwardi bersekolah di ELS Suwardi meminta tolong pada ayahandanya untuk ikut menyekolahkan Sariman di ELS. Suwardi yakin ayahandanya mau menolong karena Pangeran Suryaningrat adalah orang yang dermawan. Namun sayangnya, Pangeran Suryaningat menolak dan menjelaskan bahwa ELS hanyalah sekolah untuk anak-anak Eropa, anak bangsawan bisa sekolah di sana merupakan keistimewaan dan itupun harus memiliki surat keterangan kelahiran dan surat keterangan keturunan dari istana. Suwardi akhirnya memutuskan untuk tidak sekolah di ELS, Suwardi merasakan ketidakadilan antara kaum  bangsawan dan rakyat jelata. Namun, keputusannya luluh setelah ayahandanya mengatakan apabila Suwardi ingin teman-temannya merasakan bagaimana rasanya sekolah, lebih baik Suwardi bersekolah di ELS, kemudian ilmunya bisa dibagikan dan diajarkan kepada semua anak-anak rakyat jelata. Mendengar hal itu, Suwardi pun menjadi bersemangat dan mau bersekolah di ELS.
Pertengahan tahun 1896, Suwardi benar-benar menjadi siswa ELS. Hari-hari pertama, Suwardi merasa canggung namun lambat laun Suwardi bisa menyesuaikan diri. Hari demi hari bertambah, ilmu pengetahuan Suwardi dan kecerdasannya semakin bertambah. Namun, masalah pun juga muncul, Suwardi pernah memiliki masalah dengan, seorang sinyo Belanda yang mengejek martabat Suwardi. Untungnya permasalahan dapat terselesaikan. Dan sejak saat itu, Raden Mas Suwardi bersama kakaknya Raden Mas Iskandar terkenal sebagai jagonya anak-anak kampung untuk menghadapi penghinaan, dan sikap buruk lainnya dari sinyo-sinyo Belanda.
Suwardi mulai mengajari anak-anak hamba sahaya dan anak-anak kampung untuk belajar membaca huruf latin, anak-anak hamba sahaya dan anak-anak kampung pun sangat antusias. Bahkan setelah kabar tersebut terdengar oleh Pangeran Suryaningarat, beliau memerintahkan tukang kayu agar membuat dua buah papan tulis untuk sekolah kecil Suwardi.
Pengalaman mengajar anak-anak hamba sahaya dan anak-anak kampung membuat Suwardi merasakan menarik dan menyenangkannya mendidik itu. Maka, setelah lulus dari ELS tahun 1904 Suwardi melanjutkan pendidikan di Kweekschool, sekolah pendidikan guru di Yogjakarta.
Pada suatu minggu, Suwardi dan teman-temannya pergi berburu ke Kulon Progo. Suwardi mempergunakan sebuah senapan angin pemberian temannya Rudolf dari ELS. Suwardi ingin melatih kemampuannya seperti teman-temannya, namun pada saat Suwardi bisa membuat jatuh dan mati seekor kelelawan betina ia merasa sedih dan hatinya terkoyak. Maka sejak saat itu, Suwardi  berjanji tidak akan menyiksa binatang apapun, termasuk semut.
Pada tahun 1905 disaat 1 tahun Suwardi bersekolah di Kweekschool, Suwardi mendapatkan beasiswa dari pemerintah Hindia Belanda untuk bersekolah di Stovia yaitu sekolah dokter di Batavia. Sebelum berangkat keluarga mempertunangkan Suwardi dengan Raden Ajeng Sutartinah. Di Stovia Suwardi dan Suraji, siswa Stovia dari Indonesia juga, menjadi pemuda kocak, kritis, dan pandai melawak.
Pada tahun 1912, Suwardi bersama Douwes Dekker, serta dr. Cipto Mangunkusuma (Tiga Serangkai) mendirikan partai politik yang bertujuan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang bernama “De Indische Partij”. Karena De Indische Partij berusaha menggagalkan pesta perayaan 100 tahun Belanda di Indonesia, Tiga Serangkai diasingkan ke negeri Belanda. Sebelum diasingkan, Suwardi melangsungkan pernikahannya dengan Raden Ajeng Sutartinah, putri Pangeran Sasraingrat.
Dalam perjalanannya ke Belanda, Suwardi meninggalkan sebuah surat yang berisi anjuran kepada kawan-kawan di tanah air agar terus melanjutkan perjuangan untuk kemerdekaan bangsa dan tanah air.
Demikianlah kisah seorang anak bernama Suwardi Suryaningrat, yang kemudian lebih di kenal sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan juga sebagai Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara.

C.     Penilaian Buku

1.    Kelebihan Buku
Kelebihan dari buku yang berjudul Seorang Anak Bernama Suwardi Suryaningrat sebagai berikut:
a.       Bahasa
 Dari segi bahasa, buku yang berjudul Seorang Anak Bernama Suwardi Suryaningrat menggunakan bahasa yang komunikatif dan mudah dipahami sehingga pembaca tidak merasa bosan.
b.      Isi
Dari segi isi, buku yang berjudul Seorang Anak Bernama Suwardi Suryaningrat mengandung nilai-nilai moral yaitu kita harus menjadi anak yang patuh kepada orang tua, memiliki semangat belajar yang tinggi, tenggang rasa, setia membela bangsa dan negara, serta menyayangi binatang. Kemudian buku tersebut memiliki open ending yang menimbulkan efek penasaran kepada pembaca untuk mengetahui lebih jauh tentang Suwardi Suryaningrat.
c.         Diksi
 Dari segi diksi atau pilihan kata, kata yang dipilih untuk judul buku sederhana namun menarik.

2.      Kekurangan Buku
Kekurangan dari buku yang berjudul Seorang Anak Bernama Suwardi    Suryaningrat sebagai berikut:
a.       Fisik
Dari segi fisik, buku yang berjudul Seorang Anak Bernama Suwardi Suryaningrat memiliki sampul dan penggunaan font untuk penulisan judul yang kurang menarik, sehingga orang belum tentu tertarik untuk membaca buku tesebut saat pertama kali melihat sampulnya.
b.      Isi
Dari segi isi, buku yang berjudul Seorang Anak Bernama Suwardi Suryaningrat belum menampilkan satu pun gambar pendukung, sehingga pembaca belum tentu bisa mengembangkan imajinasinya untuk benar-benar memahami isi cerita.




BAB III
 PENUTUP

A.     Kesimpulan
Suwardi Suryaningrat adalah sosok pahlawan yang memiliki keistimewaan yaitu seorang bangsawan yang tetap berteman dengan rakyat jelata tanpa membedakan harkat dan derajat.  Selain itu, Suwardi Suryaningrat merupakan sosok yang patut diteladani karena beliau merupakan anak yang patuh kepada orang tua, memiliki semangat belajar yang tinggi, tenggang rasa, setia membela bangsa dan negara, serta menyayangi binatang.

B.     Saran
1.      Fisik
Dari segi fisik, buku bisa dibuat lebih menarik dengan cara meningkatkan perpaduan warna dan gambar cover buku serta memvariasikan font yang digunakan untuk menuliskan judul.
2.      Isi
Pada isi buku, akan lebih baik apabila diberi gambar pendukung sesuai dengan cerita, sehingga pembaca bisa mengembangkan imajinasinya untuk benar-benar memahami isi cerita.











MENGENAL LEBIH DALAM SOSOK SUWARDI SURYANINGRAT
( Sebuah Resensi dari Buku “Seorang Anak Bernama Suwardi Suryaningrat”)

Disusun untuk Melengkapi Tugas Bahasa Indonesia Kelas IX





Gambar (dalam proses)


Penyusun: Kelas IX C (masukkan lampiran)
Abisam Dwi Putra (01)
Agung Nur Hidayat (03)
Annisa Qhusnul Khasana (04)
Dhea Adzana Putri (09)
Diana Citrasari (10)


SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 1 GODEAN
TAHUN PELAJARAN 2012-2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar